Upin Upin dan Warga Kampung Durian Runtuh Kritik Jerebu di Malaysia

Daftar Isi
Jakarta, meohaybotui Indonesia
—
Upin dan Ipin
kembali merespons keras rentetan bencana kabut asap atau jerebu kiriman dari kebakaran hutan di Indonesia.
Tak sekadar lewat satu unggahan, si kembar dari Kampung Durian Runtuh ini setidaknya lima kali menyinggung isu polusi lintas negara tersebut sejak September 2026, mulai dari imbauan kesehatan hingga sindiran yang cukup tajam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puncaknya terjadi pada awal pekan ini ketika mereka mengunggah poster bertuliskan “Udara bersih hak semua” yang disertai tagar tuntutan agar Asia Tenggara segera bebas dari kabut asap.
Keresahan itu dituangkan secara gamblang lewat keterangan unggahan yang langsung menembak isu pembakaran hutan sebagai pemicu utama.
“Udara bersih adalah hak semua, tidak peduli di mana kita berada. Mari bersama-sama menjaga lingkungan, melindungi hutan, dan menghentikan pembakaran terbuka demi masa depan anak-anak seperti kami,” tulis pernyataan di akun resmi Upin dan Ipin.
Suara protes rupanya tidak hanya datang dari si kembar. Karakter lain, Ehsan Intan Payung, juga ikut meluapkan kekesalan karena rutinitas kesehariannya ikut terganggu akibat kepungan asap.
[Gambas:Video meohaybotui]
Lewat unggahan di Instagram pada Sabtu (17/10), Ehsan mengaku terpaksa mengurung diri di dalam rumah.
“Baru
nak start jogging
, tapi musim
jerebu
. Duduk rumah
je
sekarang ni sebab
kesihatan
lebih penting,” tulis Ehsan.
Di tengah rentetan kritik tersebut, tim di balik animasi ini juga membagikan panduan bertajuk “Cara Lindungi Diri dari Jerebu.”
Mereka membeberkan lima langkah pencegahan utama, yakni menghindari paparan sinar matahari langsung, banyak minum air putih, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, selalu memakai masker di luar ruangan, serta menjaga kebersihan diri.
“Mari amalkan langkah mudah untuk kekal sihat dan selamat semasa jerebu,” bunyi takarir dalam imbauan tersebut.
Langkah menyentil sekaligus mengedukasi ini sebenarnya bukan hal baru bagi warga Kampung Durian Runtuh.
Belakangan ini, saat kabut asap dari Indonesia masih menyelimuti Malaysia, mereka bahkan membagikan ulang potongan episode lawas Bahaya Jerebu.
Dalam episode lama itu, karakter pendukung, seperti Tok Dalang dan Cikgu Melati sudah sejak jauh hari cerewet menjelaskan pemicu jerebu, mulai dari puntung rokok, asap kendaraan, hingga pembakaran lahan.
Tayangan itu juga menggambarkan bagaimana anak-anak dilarang bermain di luar agar tidak terserang batuk, demam, dan iritasi mata.
Keresahan warga fiktif Kampung Durian Runtuh ini berkaca langsung pada kondisi kebakaran hutan dan lahan yang belum berakhir hingga menyebabkan kabut asap menyebar di banyak wilayah Indonesia, Singapura, dan Malaysia.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 314.124 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode 20 Agustus-20 Oktober 2026. Sebanyak 71 ribu di antaranya merupakan korban balita.
Data Kemenkes tercatat mencakup 7 provinsi dan 65 kabupaten/kota terdampak karhutla. Sebanyak 243.234 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun, sementara 70.890 kasus dialami anak usia di bawah lima tahun.
Berdasarkan keterangan resmi yang diterima meohaybotuiIndonesia.com pada Jumat (23/10), Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan kasus ISPA tertinggi, dengan catatan 82.177 kasus. Diikuti oleh Kalimantan Selatan dengan 78.894 kasus.
Selanjutnya, Kalimantan Barat sebanyak 55.686 kasus dan Riau dengan 36.433 kasus.
(chri)
LIHAT SEMUA
Baca lagi: Situasi TKP Insiden Penembakan dekat Paris Tewaskan 1 Orang
Baca lagi: Kenapa Memilah Sampah Penting untuk Lingkungan?
Baca lagi: China Kritik Taiwan Tolak Izin Masuk Zhang Linghe
Điều Cần Biết Mẹo hay bỏ túi Squaland
Mua Bán Squaland
Nhà Tốt Squaland
News Squaland