Sutradara Jafar Panahi Divonis 5 Tahun Penjara dan Aset Disita

Daftar Isi
Jakarta, meohaybotui Indonesia
—
Sineas Iran pemenang Palme d’Or
Jafar Panahi
divonis penjara lima tahun satu bulan. Hukuman baru itu dijatuhkan Pengadilan Revolusi Teheran secara in absentia dan diikuti pembekuan rekening bank serta penyitaan aset miliknya.
Putusan hukum yang cukup mengejutkan ini pertama kali dilaporkan kantor berita reformis Iran, Emtedad News Agency. Jafar sebelumnya divonis satu tahun oleh Iran karena tuduhan melakukan propaganda melawan sistem/negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, belum ada kejelasan sama sekali soal dakwaan spesifik yang menjerat sang sutradara dalam kasus terbaru yang membuatnya dijerat hukuman tersebut.
Mostafa Nili selaku pengacara Panahi membeberkan, selain ancaman kurungan dan perampasan harta, kliennya turut diganjar larangan menggunakan media sosial dan larangan bepergian ke luar negeri masing-masing dua tahun.
Namun, pelaksanaan eksekusi putusan ini disebut masih bersifat diskresioner yang berarti otoritas penegak hukum punya keleluasaan atau hak prerogatif penuh menimbang kapan, bagaimana, atau apakah hukuman tersebut bakal benar-benar dijalankan.
Rentetan kejanggalan hukum tersebut, seperti diberitakan
Variety
pada Selasa (27/10), baru terendus secara tak sengaja pekan lalu saat mendapati rekening banknya mendadak dibekukan.
[Gambas:Video meohaybotui]
Panahi bersama sang pengacara langsung bergegas mendatangi kantor kejaksaan di Teheran dan baru di sana mereka mengetahui adanya vonis in absentia.
Nili menyebut berkas perkara itu secara keliru mencatat bahwa Panahi sedang menetap di luar negeri.
Padahal, sang sutradara sudah pulang ke Iran sejak 30 Maret 2026, tak lama usai menghadiri perhelatan Academy Awards ke-98 saat film It Was Just an Accident melaju ke tahap nominasi sebagai wakil Prancis untuk Best International Feature Film.
Gesekan antara Panahi dan otoritas Iran sesungguhnya bukan cerita baru. Selama dua dekade terakhir, kreator di balik deretan karya hit peraih penghargaan, seperti The Circle, Offside, This is Not a Film, Taxi, dan No Bears ini kerap berurusan dengan aparat.
Pada 2010, ia sempat dilarang memproduksi film, berbicara kepada pers, hingga dilarang bepergian, walau akhirnya tetap nekat merampungkan karya-karyanya secara gerilya.
Pada 2022, ia juga sempat ditangkap imbas keterlibatannya dalam protes kelompok sineas lokal sebelum akhirnya dibebaskan sekitar tujuh bulan kemudian.
Larangan itu sempat dicabut sesaat pada April 2023 sehingga Panahi diizinkan terbang ke Cannes untuk merilis It Was Just an Accident, drama tentang luapan emosi para mantan tahanan terhadap sipir penyiksa yang ceritanya diangkat langsung dari pengalaman kurungannya sendiri.
Setelahnya, ia sibuk berkeliling ke berbagai negara untuk mempromosikan proyek tersebut.
Alih-alih mencari suaka, Panahi tetap bersikeras pulang ke Iran meski sadar ada ancaman vonis penjara satu tahun dari kasus sebelumnya yang menanti, ditambah iklim ketegangan politik yang bikin kepulangannya saat ini amat berisiko.
“Saya adalah tipe orang yang perlu berada di negaranya,” tutur Panahi dalam wawancaranya bersama Variety beberapa waktu lalu.
“Saya perlu bernapas di sana dan bekerja di sana. Dan bahkan jika mereka ingin melanjutkan hukuman penjara itu, mereka bisa melanjutkannya. Tidak ada yang akan mengubah pikiran saya untuk kembali.”
(chri)
Baca lagi: Hasil Guangzhou Open: Janice Tjen Memesona, Lolos ke Babak 16 Besar
Baca lagi: Sutradara Jafar Panahi Divonis 5 Tahun Penjara dan Aset Disita
Baca lagi: Begini Beda Gaya Liburan Turis RI dari Gen X, Milenial, hingga Gen Z
Điều Cần Biết Mẹo hay bỏ túi Squaland
Mua Bán Squaland
Nhà Tốt Squaland
News Squaland