Trang chủ » Review Film: Laut Bercerita (2026)

Review Film: Laut Bercerita (2026)

Review Film: Laut Bercerita (2026)

Daftar Isi

Jakarta, meohaybotui Indonesia

—

Bahkan

Laut Bercerita

yang sudah dijaga kreator aslinya, Leila S. Chudori, di tim skenario dan dikomandoi Yosep Anggi Noen di kursi sutradara, tak bisa lolos dari ‘kutukan’ film adaptasi dari novel laris.

Dengan sumber daya melimpah dan potensi yang besar, Laut Bercerita justru sempat tertatih-tatih dalam menyatukan kepingan cerita pada awal film. Alih-alih membangun cerita secara perlahan untuk mengikat emosi penonton dan menghanyutkannya ke samudra cerita Laut, film ini justru terlihat ‘kesusu’ membawa penonton ke sejumlah peristiwa penting.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laut Bercerita sebenarnya punya semua yang dibutuhkan untuk menggulung tiga status sekaligus dengan mudah: penting, terhubung dengan penonton, dan kesuksesan.

Leila turun gunung langsung menjaga kata-katanya dalam novel yang terjual 500 ribu eksemplar per Juli 2025 itu tidak menyimpang terlalu jauh di layar lebar, sekaligus mempertahankan ruh novel yang sudah punya penggemar sendiri ini.

Ahmad Zulkarnaen sebagai production designer bersama para penata artistik juga piawai membangun dunia Laut Bercerita. Nuansa akhir dekade ’90-an begitu presisi menembus layar ketika dikombinasikan dengan hasil tangkapan Batara Goempar sebagai sinematografer. Ofel Obaja Setiawan sebagai penata musik juga berhasil kawin dengan peristiwa-peristiwa dalam film tersebut.

Selain itu, deretan pemeran kelas kakap yang tak perlu diragukan kemampuannya menghidupkan karakter, seperti Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Christine Hakim sebagai Ibu, hingga Arswendy Bening Swara sebagai Bapak, juga menjadi kekuatan yang menopang cerita.

Namun, segala modal privilese yang dimiliki Laut Bercerita itu ternyata tidak menjamin hasil cerita bisa mengalir dengan mulus.

Ada bagian perahu yang hilang dalam arus cerita Laut yang membuat penonton hanya sekadar melihat rangkaian kejadian, bukan mengarungi drama kisah kehidupan Laut Bercerita sehingga terhubung dan akhirnya menyentuh relung.

Film ini memang punya tantangan besar pada aspek cerita, salah satunya adalah bagaimana memberikan ruang cukup untuk banyak karakternya dengan peristiwa yang saling kait-mengait dan berkontribusi dalam pengembangan ceritanya.

Karena Laut Bercerita tidak semata-mata berbicara soal peristiwa sejarah yang jadi latarnya, tetapi juga pada manusia-manusia yang berada di dalamnya. Ada persahabatan, keyakinan, ketakutan, dan kehilangan yang seharusnya tumbuh beriringan dengan perjalanan cerita.

Unsur-unsur tersebut jelas membutuhkan ruang untuk bernapas agar dampak emosionalnya dapat dirasakan penonton. Persoalan ruang itu akhirnya juga terasa dari absennya sejumlah adegan penting.

Momen-momen ikonis yang melekat dalam ingatan pembaca dan dinantikan ejawantahnya dalam layar lebar itu nyatanya tak semua hadir, membuat kepingan cerita terasa hilang, terutama bagi mereka yang sudah lebih dulu mengenal perjalanan Laut dan kawan-kawannya.

Keterbatasan ruang itu akhirnya memengaruhi pengembangan karakter. Penculikan Laut dan kawan-kawannya oleh aparat menjadi titik penting yang seharusnya mempertegas duka dan kepiluan keluarga korban. Namun, kehilangan tersebut tidak terasa setajam ketika Leila merangkainya dalam novel.

Salah satu yang paling disayangkan adalah porsi Ratih Anjani yang diperankan Eva Celia. Dalam novel, Anjani digambarkan begitu pilu menghadapi kehilangan kekasihnya itu. Namun, dalam film, karakternya justru lebih sering terlihat konyol dan menyebalkan.

Sikap itu mestinya dapat dibaca sebagai bentuk penyangkalan Anjani atas fakta bahwa Laut hilang. Sayangnya, pergulatan emosi di balik sikap itu tidak tergambarkan cukup kuat, sehingga penyangkalan yang mestinya menyayat hati justru menghilangkan simpati.

Sementara itu, fokus cerita pada penantian Asmara Jati jadi salah satu kekuatan utama film ini. Acungan jempol layak diberikan kepada Yunita Siregar yang berhasil menghidupkan sosok Asmara dengan cukup utuh.

Yunita sukses menampilkan Asmara dalam berbagai perannya, baik sebagai adik, anak dari orang tua yang kehilangan, hingga kekasih yang juga ditinggalkan. Kebingungan, kedukaan, dan keteguhan Asmara dalam mencari kepastian nasib sang abang tersampaikan dalam penampilannya.

Namun, pilihan memusatkan cerita pada perjuangan Asmara membuat sejumlah karakter lainnya tidak memperoleh ruang yang cukup. Selain pada Anjani, masalah itu juga dialami Bapak dan Ibu, hingga karakter kawan-kawan dekat Laut.

Meski begitu, pemilihan pemeran memang patut diapresiasi. Reza Rahadian, Kevin Julio sebagai Daniel, Ben Nugroho sebagai Alex, Dewa Dayana sebagai Sunu, serta para pemeran karakter lain dalam lingkaran Winatra terasa selaras dengan bayangan yang mungkin dimiliki pembaca novel.

Keputusan casting director Widhi Susila mendapuk jajaran pemeran besar tersebut menjadi langkah tepat untuk menjembatani ekspektasi pembaca novel rilisan 2017 itu.

Dengan segala drama perjalanan film ini, Yosep Anggi Noen untungnya mampu mengendalikan kemudi menjelang akhir cerita.

Anggi Noen mulai luwes menahkodai kapal mengarungi gelombang tantangan cerita dengan berbagai modal yang ia punya, dan akhirnya mampu berlayar dengan selamat di lautan lepas seiring mendekati waktu cahaya lampu bioskop menyingsing.

Pada momen akhir itu, Laut Bercerita berhasil menampilkan cerita yang menggugah ala Biru Laut yang melegenda dalam novel, meskipun bukan dalam potensi yang sepenuh dan terbaiknya.

[Gambas:Youtube]

(end)

Baca lagi: 5 Rekomendasi Film Akhir Pekan, Laut Bercerita dan The Intern

Baca lagi: Kubu Ruben Onsu Kecewa Sarwendah Fokus Beber Kejelekan di Sidang

Baca lagi: Bridgestone Gelar BFA Gathering 2024, Perkuat Kualitas Layanan Fleet

Điều Cần Biết Mẹo hay bỏ túi Squaland
Mua Bán Squaland
Nhà Tốt Squaland
News Squaland

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *